Uji Gagasan dan Dialog Terbuka Calon Pemimpin Mahasiswa 2026


Garut, Aksara - Komperma IAI Persis Garut mengadakan Forum Dialog Kandidat yang bertajuk “Uji Gagasan dan Dialog Terbuka Calon Pemimpin Mahasiswa” yang berlangsung di Aula Rusunawa IAI Persis Garut, pada Rabu (15/4/26).

Kegiatan ini menjadi ruang dialektika terbuka yang mempertemukan gagasan, visi, dan tanggung jawab kepemimpinan, di mana calon pemimpin diuji melalui argumentasi kritis serta solusi nyata bagi dinamika mahasiswa.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Riza Nur Saepulloh dan dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars IAI Persis Garut. Kemudian sambutan dari Rizal Abdul Bakrie selaku ketua pelaksana Komperma, menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini mengalami perubahan dari debat dialog kandidat menjadi forum dialog karena hanya ada satu pasangan calon pada tahun ini.

Muhammad Nur Shidiq, M.Ag selaku kabag kemahasiswaan dalam sambutannya menyampaikan bahwa jangan sampai kotak kosong yang menjadi pemenangnya 

“Karena tahun ini cuman ada satu Paslon, maka akan ada dua kemungkinan, satu berisi satu Paslon dan satu kotak kosong. Bagaimana jadinya jika kotak kosong yang menang." Ujarnya.

Satu-satunya pasangan calon yang berpartisipasi pada tahun ini adalah Capres Ridwan Awaludin dan Cawapres Abdan Abdillah, dengan visi “Responsif, Solutif, dan Profesional”. Misi mereka mencakup untuk membangun intensitas eksistensi, meningkatkan responsivitas terhadap problematika dan dinamika kampus IAI Persis Garut, meningkatkan jiwa integritas, totalitas, dan loyalitas sebagai profesionalisme amanah organisasi, serta menjadikan DEMA sebagai penghubung dan eksekutor aspirasi mahasiswa.

Selanjutnya kegiatan diisi oleh dialog terbuka yaitu sesi tanya jawab yang berfokus pada tiga tema utama: intensi kampus, kemahasiswaan, dan kebma. Isu mengenai SDM dalam keorganisasian menjadi sorotan dalam sesi tanya jawab dalam Forum Dialog Kandidat, Hilman dari prodi PAI menyampaikan bahwa terkait SDM ini selalu menjadi problem utama. 

“Ada yang unggul dan kompeten didalamnya tapi mereka tidak berkecimpung didalamnya, ada kalanya SDM ditempatkan pada bidang yang tidak sesuai minatnya yang menjadikannya tidak optimal.” sambungnya

Mengenai hal itu, Ridwan menanggapi dan menjelaskan bahwa Dema itu bukan hanya sekadar hadir tetapi akan mencoba untuk menjalani hubungan yang harmonis agar nantinya mahasiswa tidak canggung dan tidak takut untuk memberikan aspirasinya kepada Dema. Dari sanalah akan terjalin komunikasi yang persuasi. Ia menyadari bahwa mahasiswa kurang adanya rangkulan atau keberadaan Dema dan juga Minat ketika mereka memiliki aspirasi tidak menyampaikan ke pihak yang bersangkutan.

Abdan selaku cawapres menambahkan bahwa terkait permasalahan tersebut ingin diupayakan untuk membangun rasa memiliki terhadap organisasi tersebut, karena dengan itu maka mahasiswa akan datang sendirinya tanpa adanya paksaan.

Sesi berlanjut dengan pertanyaan yang datang dari Dilla Nur Fadilah selaku perwakilan dari UKM Aksara. Ia mempertanyakan terkait penyelesaian jika adanya konflik kebijakan antara mahasiswa dengan kampus selain dari audiensi. Selain itu ia juga menambahkan terkait strategi yang akan dilakukan agar program kerja komponen kebma tidak hanya bersifat seremonial saja tetapi juga mampu berdampak bagi anggota-anggota yang bergabung didalamnya.

 “Dari Dema akan terus memfollow up hasil dari audiensi, akan terus berkoar mempertanyakan kebijakan tersebut meskipun akan ada gertakan-gertakan dan akan mencari jalan arah lain.” jawab Ridwan

Ia juga menambahkan bahwa dalam berorganisasi atau dalam program kerja komponen kebma itu harus bersinergi dan selaras dengan perencanaan dan arah tujuannya. Dema akan membimbing dan menganalis sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dari program tersebut.

Sesi terus berlanjut, pertanyaan selanjutnya datang dari Wafa Izzatul selaku perwakilan dari Mahasiswa PAI. Ia menyinggung terkait masalah yang hari ini sedang ramai yaitu mengenai kasus Kekerasan Seksual yang terjadi di FHUI, ia mempertanyakan tentang upaya preventif agar mahasiswa merasa aman, dan memberikan ruang aman bagi perempuan. Mengenai hal ini, Ridwan menjelaskan bahwa harus diupayakannya kepercayaan mahasiswa terhadap Dema untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan mempermudah menyelesaikan isu permasalahan tersebut secara intensif dan mengupayakan ruang tentang isu-isu yg sensitif. Serta akan menciptakan ruang aman dan penanganan bagi korban, dan menjadikan rahasia aman bagi korban. Mengenai pencegahannya dengan bentuk edukasi kepada seluruh mahasiswa dengan pemateri yang ahli di bidang tersebut yang akan menjadi proker khusus untuk preventif tersebut. 

Sesi tanya jawab ini diakhiri oleh pertanyaan dari Imam Hasan yang menyinggung visi misi tentang profesional dan eksistensi mengenai pemira sekarang yang hanya mencalonkan 1 pasangan saja yang tentu ada sebab akibatnya, ia mempertanyakan mengenai bukti nyata profesional dan eksistensi Dema pada saat kepengurusan mereka. Paslon menjawab dengan komitmen akan menyelesaikan satu periode kedepan untuk berdampak. Sedangkan untuk eksistensi Dema, capres dan cawapres akan melakukan kegiatan tegur sapa rutin kepada mahasiswa, menjalin komunikasi intens dengan UKM dan HMPS, serta program unggulan Kebma Leadership Class untuk ketua HMPS dan UKM, serta tasykil, dan mahasiswa potensial sebagai upaya memupuk keberanian memimpin dan melahirkan pemimpin profesional.

Imam Hasan berharap eksistensi dan profesional Dema selalu ada, tidak hanya untuk mahasiswa reguler, tetapi juga mahasiswa non reguler.

Semoga forum diskusi ini menjadi wujud demokrasi yang transparan dan akuntabel dalam mewujudkan pemimpin mahasiswa di IAI Persis Garut.



Jurnalis: Afkary, Azhar, Aurin, Safira.

Editor : Dilla Nur Fadilah 

Post a Comment

Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!

Lebih baru Lebih lama