Gerakan PERSISTRI Dalam Al-Lisaan [1935-1936] | Bagian II

Ilustrasi Gambar: Tim Redaksi UKM Aksara
Foto: Instagram Persisphotoghraphy

.... lanjutan dari bagian 1

Oleh sebab jang beramah-ramahan setiap hari dengan anak-anak itoe kaoem iboe, maka haroeslah kaoem iboe pandai. Karena ialah goeroe jang pertama kali, boeat mendidik anak-anaknja. Kalau iboe bodoh, tentoe tak dapat memimpin anak-anak.” —Ny. Salha, aktivis PERSISTRI Tanah Abang (1936: 30). 

Pada bagian pertama tulisan ini telah dijelaskan tentang asas dan tujuan gerakan Persatoean Islam Bahagian Isteri (PERSISTRI). Bahwa keberadaan organisasi kaum hawa PERSIS ini adalah untuk "mendjoendjoeng tinggi deradjat kaoem iboe dan mempeladjari sedalam-dalamnja tentang agama Islam….” Dari tujuan yang asasi ini berkembang menjadi misi gerakan PERSISTRI berupa “…toedjoean Persis Isteri dengan djalan tabligh, mengadakan cursus agama, dan keradjinan tangan, dan keperloean roemah tangga dan mendidik anak-anak setjara Islam.” (Madjallah Al-Lisaan No. 3, Februari 1936, hlm. 29, kolom 1).

Tujuan dan misi utama PERSISTRI ini mengambil intisari dari QS. Al-Ahzab [33]: 28-31. Ini yang dengan baik sekali diilustrasikan oleh muballighah muda Betawi, Nona Noerdjannah. Penafsiran Nona Noerdjannah terkait empat ayat dalam QS Al-Ahzab tersebut adalah sebagai berikut: Isteri-isteri Nabi Muhammad Saw., yakni Siti Aisyah dan Siti Hafsah, meminta perhiasan kepada Nabi, yang tiada bersepadanan dengan kekayaan Nabi. Maka, Nabi pun berdukacita. Waktu itu, turunlah wahyu yang menanyakan kepada isteri-isteri Nabi tersebut: apakah mereka itu suka pada perhiasan dunia atau akhirat? Kalau mereka suka akan keduniaan, Allah akan memberikan dunia itu, tetapi di akhirat akan diazab dua kali lipat dari ibu-ibu yang lain. Sebaliknya, jika mereka itu suka akan akhirat akan diberi kesenangan dan rezeki dua kali lipat pula. Dengan turunnya wahyu ini, isteri-isteri Nabi pun segera menyadarinya.

Nona Noerdjannah kemudian menegaskan: “…maka tobatlah kedoea Isteri Nabi ini kepada Allah dan minta maaf kepada Nabi Saw. Inilah jang sewadjibnja ditjontoh oleh kaoem iboe jang memeloek agama Islam.” (Madjallah Al-Lisaan No. 3, Februari 1936, hlm. 29, kolom 2). Dengan kata lain, para anggota PERSITRI haruslah memilih seperti pilihan para Isteri Nabi Saw. Karena hanya dengan begitulah, kaum hawa akan—dan bisa—membangun kemuliaan dirinya. Sebagai seorang “mar’ah sholihah,” perhiasan terbaik (yang sejatinya) di dunia.  

Spirit inilah yang mendorong PERSISTRI bergerak tanpa henti, misi menyadarkan kaum ibu dan para pemudi, serta mengembangkan sayap-sayap organisasinya. Kini, secara ringkas dalam majalah Al-Lisaan, kita jadi mengerti tentang tujuan berdirinya PERSISTRI, serta mengapa misi gerakan PERSISTRI tersebut disimbolkan dengan jargon: “Sebaik-baik perhiasan dunia adalah al-mar’ah al-sholihah!” Ya, karena mereka (meyakini) akan mendapatkan kesenangan dan rezeki dua kali lipat, di dunia dan akhirat kelak. Insya Allah Ta’ala.

Tak pelak, sang muballighah muda Nona Noerdjannah mengritik kebiasaan kaum hawa yang berlaku umum saat itu. Kaum hawa yang hidup untuk kesenangan dunia saja, terjebak dengan kebiasaan sehari-hari yang negatif. Katanya, “Allah melarang kita berlakoe boeroek…sedang kebiasaan kita kaoem iboe, habis oemoernja digoenakan memfitnah dan mengomongkan kedjelekan orang lain sahadja.” Oleh karena itu, Nona Noerdjannah menyerukan pada kaum hawa Muslimah, bahwa “wadjib semoea perempoean toeroet berdjoeang di dalam meninggikan perintah-perintah Allah dan Rasoel-Nja. Berbahaja jang amat besar, jikalaoe kaoem iboe-iboe tidak soeka berdjoeang dan menoentoet ilmoe, karena iboe itoe adalah goeroe jang teroetama sekali bagi anak-anaknja. Apabila iboe itoe bodoh, anak-anaknja poen bodoh" ( Al-Lisaan No. 9, September 1936, hlm. 29).

Senada dengan itu, Ny. Salha—sebagai muballighah PERSISTRI Tjabang Tanah Abang—menyatakan tentang urgensi pendidikan untuk kaum hawa. Ny. Salha menegaskan, “Zaman sekarang, zaman kemadjoean dalam segala-galanja. Dari itoe, kalau kita kaoem perempoean tinggal bodoh sadja, tentoelah kita akan tinggal di belakang.” ( Al-Lisaan, No. 3 Februari 1936, hlm. 30). Jelas, para aktivis PERSISTRI termasuk kaum progressif pada zamannya. Melalui gerakan tabligh, mereka melakukan agitasi dan propaganda demi memajukan kaum hawa, sekaligus memberdayakan keluarga mereka.

Pendidikan pun menjadi core gerakan PERSISTRI, baik secara non formal (tabligh dan kursus), maupun secara formal (sekolah). PERSISTRI menyerukan, jika strategi pendidikan kaum ibu adalah melalui pengajian dan kursus, maka untuk anak-anaknya diarahkan untuk memasuki sekolah formal. Secara persuasif, muballighah Ny. Salha melakukan agitasi pada kaum hawa, supaya “…kaoem iboe oentoek mengoendjoengi tabligh-tabligh dan masoekkan anak-anak kepada sekolah-sekolah…dan bantoelah jang teroetama sekali sekolah kita dengann sehabis-habis tenaga. Sebab orang jang membantoe berdirinja sekolah itoe sama djoega dengan mendirikan roemah sendiri…sekolah itoe mendidik anak-anak kita jang kita sendiri akan memetik boeahnja kelak.” 

Ny. Salha secara jernih menjelaskan upaya-upaya yang telah dan akan dilakukan PERSISTRI. Lebih dari itu, ia meminta kaum hawa untuk mendukung PERSISTRI. Katanya, “…marilah kita toendjang bersama-sama perkoempoelan Persis Isteri ini, jang mana di Persis Isteri akan diadakan peladjaran-peladjaran dan memberi didikan kepada kaoem iboe dan anak-anak.” (Al-Lisaan, No. 3 Februari 1936, hlm. 30).

Konteks yang harus kita pahami pada dekade 1930-an, keluarga Muslim—terutama kaum hawa dan anak-anaknya—pada umumnya terbelakang dalam proses modernisasi yang sedang berkembang di tanah Hindia Belanda. Sebaliknya, bagi keluarga Muslim yang terdidik, tantangan berat muncul karena mereka mengalami sekularisasi—efek samping dari politik emansipasi yang dijalankan Pemerintah Kolonial Belanda. 

Pada abad ke-20, terutama dekade 1920an dan 1930an, kaum terpelajar Indonesia pada umumnya sedikit sekali yang memberi perhatian pada Islam, agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia. Kecenderungan kaum terpelajar ini malah memandang rendah Islam. Namun, pandangan negatif ini cenderung didasarkan pada sikap apriori, tidak didasarkan atas kajian mendalam terhadap Islam (Merle C. Ricklefs, Polarizing Javanese Society: Islamic and Other Visions 1830-1930, University of Hawaii Press, 2007). 

Persoalan yang timbul pada keluarga-keluarga muslim yang terdidik malah cenderung mengikuti arus budaya politik emansipasi Belanda—bergaul dan bergaya hidup ala Eropa. Hal ini juga menimpa keluarga besar PERSIS dan PERSISTRI di Priangan maupun Batavia. Majalah _Al-Lisaan_ misalnya mengilustrasikan kritik internal pada keluarga PERSIS: “Boeah Sekolah Barat. Ada orang berkata kepada saja: Di antara lid-lid dan ketoea-ketoea Persis, masih ada jang anak-anak perempoeannja tidak bertoedoeng dan berlagak lakoe tjara Barat, dan berpakaian sampai terlihat betis dan paha. Terpaksa saja jawab: Ja, betoel ada. Tetapi moedah-moedahan lekas hilang. Ma’loemlah, moeallaf!” (Al-Lisaan, No. 1 Desember 1935, hlm. 18).    

Pada bagian lain, Al-Lisaan juga memberikan kritik internal yang lebih tajam dengan judul berita “Anak-anak orang Persis,” bahwa:

Orang-orang Persis, kaoem moeda, mengakoe mendjadi pembela agama Allah, dan betoel djadi pembela di waktoe ada kelapangan…Lantaran riboet dengan “membela” agama Allah, hingga loepa tak adjar anak-anaknja mengadji Qoer’an, tak adjar agama. Dan ada poela jang tjaboet anaknja dari sekolah agama ataoe pengadjian Qoer’an, dengan alasan mahu tammatkan doeloe sekolahnja, sekolah Belanda. Roepanja di achirat, Toehan akan periksa hal bid’ah sahadja…Harap anggota-anggota Persis fikirkan dan lihat kanan dan kiri.” (Al-Lisaan, No. 3 Februari 1936, hlm. 24).

Dalam konteks inilah, kita bisa memahami signifikansi gerakan PERSISTRI. Terutama peran penting PERSISTRI dalam membangun dan mengembangkan pola Ketahanan Keluarga Muslim. Termasuk, tentu saja, ketahanan keluarga besar PERSIS itu sendiri. Dalam konteks yang berkembang saat itu, dekade 1930-an. Di tengah gencarnya proyek emansipasi-sekularisasi dari kaum penjajah. 

Wallahu a’lam.


Karya: Dr. Pepen Irfan Fauzan, M. Hum

Posting Komentar

Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!

Lebih baru Lebih lama