Studium Generale STAIPI Garut Mengawali Perkuliahan Semester Ganjil dan Membekali Mahasiswa Wawasan Baru

Acara Stadium Generale STAIPI Garut (Sumber: Aksara)

Garut, Aksara--STAI Persis (STAIPI) Garut sambut perkuliahan semester ganjil tahun akademik 2023-2024 dengan mengadakan Studium Generale atau kuliah umum, Senin (25/09/2023).

Stadium Generale kali ini mengangkat tema "Warga Perkotaan dan Fenomena Hijrah: Peluang dan Tantangan Dakwah Kampus," yang diadakan di Auditorium STAI Persis Garut, Jalan Aruji Kartawinata, Tarogong Kidul, Garut.

Baca Juga: Ustadz Nyentrik Hadir di Ma'ruf STAIPI Garut 2023

Studium Generale ini diadakan untuk membekali para mahasiswa wawasan pengetahuan baru dengan mendatangkan tokoh penting dan sosok inspiratif di luar bidang studi mahasiswa.

"Sebagaimana tradisi kita, hari pertama perkuliahan diawali dengan kuliah umum", ujar Dr. Gun Gun Abdul Basit, M. Ag., ketika membuka acara.

"Kita ingin memberikan kesan yang baik, dengan salah satunya mendatangkan pembicara yang hebat, dakwah itu menjadi ruh di kampus kita, sehingga apapun Prodi (Program Studi) di kampus kita itu bagian dari dakwah" kata Wakil Ketua Bidang Kurikulum itu. 

Sesi Tanya Jawab dengan Para Pemateri (Sumber Aksara)

Para pembicara yang mengisi acara ini di antaranya adalah Prof. Muhammad Fakhrurozi, dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Tantan Hermansyah, M. Si., Ketua Prodi Magister KPI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Muhammad Fanshoby, M. Sos., dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Turut hadir pada acara tersebut di antaranya Ketua STAI Persis Garut, Dr. Maman Sumpena, M.Si., yang diwakili oleh Wakil Ketua I, Dr. Gun Gun Abdul Basit, M. Ag., Wakil Ketua III, Dr. Heri Mohamad Tohari, M. Pd., para ketua program studi, dosen, dan mahasiswa. 

Baca Juga: Sidang Senat Terbatas STAIPI Garut Kukuhkan Peserta Ma'ruf 2023 Menjadi Mahasiswa Baru 

Acara diawali dengan pemaparan materi oleh Dr. Tantan, di mana beliau menjelaskan fenomena hijrah yang terjadi di perkotaan. 

Menurutnya fenomena hijrah yang terjadi secara masif banyak dipengaruhi oleh media sosial, sehingga menimbulkan peluang dan tantangan dakwah kampus untuk menghadapi fenomena itu.

Belakangan ini, fenomen hijrah terjadi secara luas dan masif khususnya di daerah perkotaan. Mulai dari orang-orang kelas menengah bawah dan atas hingga sampai kepada para artis atau puclic figure yang berhijrah.

Menurut Dr. Tantan, sudah banyak komunitas hijrah yang terbentuk, mulai dari komunitas pemuda hijrah sampai komunitas artis hijrah dengan menetapkan biaya kontribusi yang besar untuk mengadakan pengajian atau kajian. 

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa kaum hijrah sering dimasuki dua kelompok besar yaitu kaum salafi dan jemaah tabligh yang sering memasuki para musisi tanah air. Sehingga fenomena hijrah bisa menjadi peluang dan tantangan bagi civitas akademika kampus. 

"Oleh karena itu civitas akademika di kampus harus menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi dengan baik, memiliki spirit akademik, dan memahami realitas sosial, budaya, ekonomi, beserta perubahannya dengan baik," ujar Dr. Tantan.

"Tetaplah kritis dan cermat akan budaya baru, kita sebagai umat muslim jangan diam saja akan perubahan dan perkembangan zaman," ucap Dr. Tantan.

Lebih lanjut Prof. Fakhrurozi menjelaskan bahwa fenomena hijrah sudah diawali oleh Nabi Muhammad dengan berhijrah ke Kota Madinah yang lebih metropolis. 

"Fenomena ini mudah mengisi ruang-ruang publik, maka semakin luas dan mudah diterima oleh warga perkotaan," kata Prof. Fakhrurozi. 

"Sebenarnya, hijrah itu kembali kepada identitas diri sendiri atau fitrahnya namun berbeda lagi jika hijrah itu sudah masuk pada suatu komunitas, maka akan berbeda lagi ketentuannya sesuai dengan komunitasnya," ujar Prof. Fakhrurozi.

Beliau menekankan akan pentingnya mengambil peran terhadap fenomena ini dengan menjadi seorang "Dai dan Konten Kreator" yang memanfaatkan media sosial. 

"Kita boleh menjadi bagian yang berhijrah namun kita harus bisa memberikan warna yang berbeda," pungkas Prof. Fakhrurozi.

Muhammad Fanshoby, M. Sos., menambahkan bahwa berdasarkan survei yang dilakukan oleh ION Research tahun 2019, sebanyak 72,8 persen milenial dari 2190 responden mengatakan bahwa mereka saat ini melakukan "hijrah."


Jurnalis: Sofia St Hajar, ZMR 


Posting Komentar

Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!

Lebih baru Lebih lama