Garut, Aksara - Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) sukses menyelenggarakan Seminar dan Gelar Karya Panca Waluya PGMI 2026 yang berlangsung di Auditorium kampus, Jalan Aruji Kartawinata, Tarogong Kidul, pada Senin (02/02/2026).
Kegiatan ini mengusung tema "Nyantri, Nyakola, Nyunda, Nyantika: Internalisasi Nilai Panca Waluya Berbasis Deep Learning dalam Pendidikan Keguruan." Tema dipilih untuk menjawab tantangan pendidikan modern di era ini.
Dihadiri oleh 150 peserta diantaranya para Dosen IAI Persis Garut, mahasiswa IAI Persis Garut dari berbagai prodi, dan guru-guru dari luar serta para tamu undangan lainnya.
Nuraeni Sugih Pramukti, M.Pd. dalam sambutannya menyebut bahwa
nyantri dalam tema ini ialah aspek spritual yang dilatarbelakangi dengan pembentukan karakter dan nilai religius. Silih Asah Silih Asuh Silih Asih bagian dari Internalisasi nilai panca waluya dalam filosofi Sunda warisan para orang tua sebelumnya. Seperti sebuah penggalan syair dalam pantun "eling-eling mangka eling, kudu apik Jeung berseka. Ulah odoh ku panganggo, mun kotor geuwat seuseuhan, soek geura kapitan, Kanu butut masing butuh, Kanu anyar masing lebar.
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan menjadi wadah aktualisasi mahasiswa PGMI sebagai penguatan nilai-nilai karakter.
Kegiatan diawali dengan penampilan tari dari anak SLB N 1 Garut yang menampilkan tari kreasi membuat kagum para peserta seminar karena di balik keterbatasan ada kelebihan. Mereka menampilkan dengan percaya diri, semangat, dan cepat tanggap.
Welcoming speeak dari Riyan Nuryadin, S.H.I.,M.Pd. menyampaikan bahwa kearifan lokal harus dihidupkan dalam pembelajaran.
Rasul memberikan keteladanan memberikan nilai dan itu dilihat oleh seluruh umatnya. Menyentuh kedalaman berpikir, menyentuh kejujuran ilmiah. Lembaga pendidikan hari ini dituntut tidak hanya mengajar tetapi menjadi pendidik yang memiliki keluhuran akhlak dan keberpihakan yang jelas terhadap umat dan nilai-nilai keislaman, menjadi pendidik yang mencerahkan.
Dilanjut dengan penampilan medley dan drama musikal dari mahasiswa PGMI 3A dan 3B, setelah itu penampilan drama kaulinan barudak sora rerea'na dari mahasiswa PGMI 5A.
Setelah penampilan dari mahasiswa, dilanjut ke acara seminar yang dimoderatori oleh Dr. Heri Mohamad Tohari, S.Fil. I. , M.Pd. selaku warek 1 IAI Persis Garut. Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Julia, M.Pd. Beliau menyampaikan pentingnya penguatan karakter pendidik melalui internalisasi nilai Panca Waluya, yakni nilai-nilai yang menekankan keseimbangan antara aspek spiritual, intelektual, emosional, sosial, dan kultural. Menurut beliau, guru masa depan tidak hanya dituntut cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan nilai, etika, dan budaya.
Pendidikan berbasis deep learning panca Waluya memiliki 5 kunci supaya selamat dunia akhirat yaitu cager bager bener pinter singer. Prinsip ini harus ditanamkan di tiga lingkungan yakni keluarga, sekolah, dan sosial masyarakat. Tiga lingkungan ini selalu menjadi penentu bagaimana nilai-nilai ini ditanamkan. Deep learning itu belajar teuteuleuman (menyelam) maka yang diperolehnya isi bukan oojayan (hanya berenang) karena yang diperoleh hanya akan cangkangnya, jangan hanya ingin nilai tapi kualitas yang harus diperbagus.
Prinsip dasar dari pembelajaran deep learning.
1. Meaningful (materi harus bermakna yang bisa diimplementasikan di kehidupan sehari-hari).
2. Mindful, (harus sampai pada kesadaran tertingginya)
3. Joyfull (penuh dengan kebahagiaan dan kegembiraan).
Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan 1.Bagaimana rasa ingin tau itu dimunculkan
2. Inquiry, pencarian dengan berbagai projek model pembelajaran
3. Menghasilkan karya
4. Makna sikap
Ada lima nilai untuk mendidik yaitu kultur jiwa, cipta, rasa, raga, dan karsa. Serta enam karakter unggul masyarakat Sunda yaitu nyantri(spritual), nyakola (berilmu), nyunda ( adat dan nilai budaya), nyanggana (menjaga keseimbangan hidup), nyantika (beretika), nyatria (keberanian dan keteladanan). Maka ketika aspek ini sudah dilakukan akan muncul atmosfer yang tiga yaitu silih asah, silih asih, silih asuh. Bentuk tertinggi ketika seseorang sudah berada di kesadaran sesadar sadarnya.
Pemateri kedua Lam Lam Pahala, S.H.I, M.Pd. menyampaikan bahwa dalam pembelajaran deep learning
• Anak bukan hanya memahami (bencana alam misalnya) tetapi harus memahami kenapa itu bisa terjadi.
• Anak harus bisa menarik pengetahuan dari berbagai pengetahuan misalnya dari agama apakah bencana kehendak Tuhan atau ulah manusia.
• Anak betul-betul memahami secara utuh dan mendalam dan diminta ilmu pengetahuan yg terkait sehingga bisa dibedah secara jelas yaitu bagaimana satu masalah didekati multidisiplin ilmu.
Kaitannya dengan panca waluya 8 profil lulusan pembelajaran deep learning dan ini berlaku di berbagai suku maka istilahnya menasional
1. keimanan/ ketakwaan
2. kewargaan
3. kreatifitas
4. penalaran kritis
5. kolaborasi
6. kemandirian
7. kesehatan
8. komunikasi
ini bertujuan membentuk individu berkarakter, cakap, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Setelah selesai seminar dilanjut pertunjukan dari semester 5B yang menampilkan drama musikal kaulinan barudak.
Kegiatan ini diakhiri dengan penandatanganan MOU kerjasama antara Program Studi PGMI IAI Persis Garut dengan Program Studi PAI Uniga dan PGMI Imda Garut serta SLB Negri kota Garut.
Di akhir sebelum penutupan acara, diisi oleh pengumuman juara lomba antar MI dan diakhiri dengan penampilan dongeng Sunda oleh juara 1 lomba dongeng Sunda antar MI.
Dengan terselenggaranya Seminar dan Gelar Karya Pendidikan Panca Waluya PGMI 2026 ini diharapkan mampu mencetak pendidik yang unggul, inovatif, dan berlandaskan nilai-nilai Panca Waluya.
Jurnalis : Dilla, Agni, Fuzi
Editor : Dilla Nur Fadilah

Posting Komentar
Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!