Woka (Workshop Aksara): Bedah Buku "How to Read a Book" Karya Mortimer J Adler dan Charles Van Doren

Pemateri Rifki Kurniawan (Tengah) dan Para Kader Aksara (Sumber: Aksara)

Garut, Aksara-- Aksara STAIPI Garut sukses menggelar Woka (Workshop Aksara) dengan membedah buku How to Read a Book: The Classic Guide to Intelligent Reading, karya Mortimer J Adler dan Charles Van Doren. Jumat, (24/11/2023). 

Kegiatan tersebut merupakan salah satu program Literasi Aksara dengan tujuan meningkatkan kemampuan literasi terhadap para kader terbaik Aksara STAIPI Garut

Woka tersebut diselenggarakan di lembaga Bimbingan Belajar STAN Channel Garut, Jl. Proklamasi Gg. Jaya Graha, No. 9, Jayaraga, Tarogong Kidul, Garut. Sekaligus Aksara bekerja sama dengan pihak Bimbel. 

Woka tersebut diadakan secara berseri selama empat kali pertemuan setiap hari Jumat. Diharapkan setelah mengikuti Woka ini, para kader terbaik Aksara mempunyai kemampuan literasi yang mumpuni, yang nantinya akan menjadi jurnalis, sastrawan, dan pegiat literasi.

Tampil sebagai pemateri, Rifki Kurniawan yang merupakan lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjajaran (Unpad) juga sempat berkuliah di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Indonesia dan Akuntansi di Sekolah Akuntansi Negara (STAN),  mengaku senang bisa memberikan pengetahuan dan hard skill yang sangat fundamental kepada para kader terbaik Aksara.

Kegiatan Woka (Workshop Aksara) Bedah Buku How to Read a Book (Sumber: Aksara)

"Belajar bagaimana cara belajar merupakan sesuatu yang sangat penting", ujar Rifki, owner Bimbel STAN Channel Garut itu. 

Woka ini dihadiri langsung oleh ketua umum dan para kader terbaik Aksara. Mereka mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh atensi dan berharap bisa mendapatkan kebermanfaatan yang terbaik.

"Saya sangat senang bisa mengikuti Woka ini, karena bagi saya pribadi, belajar bagaimana cara belajar atau learning how to learn merupakan sesuatu yang sangat fundamental dan penting untuk dilakukan, kemudian (Woka) ini juga merupakan langkah awal dalam berliterasi, khususnya dalam tahap seni membaca dan menelaah buku," ucap Zulfi, Ketua Umum Aksara.

"Saya berharap, temen-temen Aksara bisa konsisten mengikuti setiap tahapan Woka ini, karena ini merupakan the art of learning, agar nantinya mereka mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif. Apresiasi setingi-tingginya kepada Kang Rifki karena telah memberikan kesadaran dan value yang baru bagi temen-temen Aksara," tambah Zulfi. 

Baca Juga: HM-PS ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR SELENGGARAKAN FORUM MAHASISWA & MAHASISWI

Dalam materinya, Rifki memberikan pemahaman literasi secara sosiohistoris dengan menjelaskan sejarah adanya peradaban Islam melalui literasi. 

Lebih lanjut, Rifki menjelaskan urgensi belajar sesuatu yang fundamental, termasuk learning how to learn. Menurutnya, mempelajari sesuatu yang fundamental akan memberikan pemahaman  yang utuh atau komprehensif.

Dirinya menambahkan bahwa tidak boleh mendikotomi ilmu. 

Yaitu suatu sistem atau pemahaman yang memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum menjadi dua ilmu yang bertentangan, tidak dapat bersatu karena suatu perbedaan ilmu dan naungan yang membuat batas antara ilmu dunia dan akhirat.

Menurutnya, pada hakikatnya segala ilmu pengetahuan berasal dari Allah SWT. 

Adapun ilmu yang berasal dari selain Islam, pasti ada kebenaran dan kebaikan yang bisa diambil. Pada prinsipnya harus bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Baca Juga: Perdana! LPPM STAIPI Garut Bedah Buku (Disertasi) Bertema "Problem Based Learning"

Pada kegiatan tersebut, Rifki menjelaskan intisari dari buku How to Read a Book dengan memberikan modul rangkumannya yang disusun oleh Yogi Theo Rinaldi dan Desi Setianingrum. 

Dirinya menjelaskan bahwa membaca merupakan satu kegiatan yang bersifat aktif. Apalagi jika memakai seni menelaah buku. Maka akan semakin menyenangkan dan menambah pemahaman. 

Lebih lanjut menurut Rifki, dalam buku How to Read a Book bahwa tujuan dari belajar seni membaca dan menelaah buku, yaitu to gain an increased understanding atau memperoleh peningkatan pemahaman the world we live. 

Menurut buku tersebut, untuk mendapatkan pemahaman yang meningkat dari aktivitas membaca dan menelaah buku maka harus menguasi empat level membaca. keempat level itu adalah sebagai berikut: 

Elementary Reading

Yaitu level paling dasar dari membaca buku. untuk bisa melalui tahap ini harus mempunyai prasyaratnya, yaitu tidak tuna netra dan tuna rungu, bisa menghafal atau mengingat bentuk dan bunyi huruf, mampu berbicara dan menggunakan beberapa kalimat dalam susunan yang benar, dan mampu bekerja dengan orang lain.

Inspectional Reading

Yaitu tahap di mana seseorang bisa menelaah buku atau menentukan jenis buku dengan Systemic Skimming, seperti menentukan tema, melihat daftar isi, kata pengantar, melihat indeks, dan Blurb sebuah buku. 

Level ini bisa dilewati dengan menelaah buku melalui menulis satu paragraf ringkas untuk menjawab setiap pertanyaan berikut ini; what kind of book is it? (apa jenis buku itu?), what is it about as a whole? (tentang apa buku itu secara keseluruhan?), dan What is the structure of the book? (bagaimana struktur bukunya?) 

Analytical Reading

Yaitu memahami buku dengan memaksimalkan kemahiran bahasa. Agar bisa melewati level ini, harus bisa menafsirkan atau intepreting dengan menganalisis suatu buku melalui cara coming to terms. 

Yaitu memahami makna dari kata-kata kunci penulis dan main argument, yaitu mencari proposisi, premis atau hujah-hujah pokok. Kemudian harus bisa mengkritik buku setelah dibaca dan dipahami.

Syntopicon Reading

Yaitu Comparative Reading/Research, membaca lebih dari satu buku tentang satu atau beberapa topik dengan mempersiapkan indeks buku yang tersedia tentang topik yang akan dibahas, kemudian menginspek buku dan menganalisisnya.

Salah satu kader terbaik Aksara, memberikan kesannya setelah mengikuti Woka ini. Dirinya menyadari bahwa membaca buku itu tidak sesederhana yang dipikirkan saat ini.

Baca Juga: Jalin Kerja Sama dengan UNIDA Gontor: STAIPI Garut Adakan Seminar Pemikiran dan Peradaban Islam

"Ternyata membaca itu tidak hanya asal membaca saja, tapi ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam membaca, mulai dari cara memilih buku yang sesuai dengan keinginan kita, cara memahami apa yang dibaca, dan lain sebagainya," ujar Gufron, kader Aksara asal Sulawesi.

Lain halnya dengan Gufron, Haifa menceritakan pengalamannya setelah mengikuti Woka ini, dirinya merasa senang dan berharap program ini bisa bertahan untuk perkembangan Aksara ke depannya.

"Untuk kegiatan Workshop Aksara kemarin sangat bagus dan perlu dipertahankan untuk perkembangan UKM Aksara sendiri, dari kegiatan tersebut juga di mana kita bisa belajar bagaimana caranya belajar dan jangan dikotomi terhadap ilmu," ucap Haifa, kader Aksara asal Tasik.

Z M R





Posting Komentar

Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!

Lebih baru Lebih lama