Bayang-Bayang Institut?? PRESMA × REKTOR angkat bicara

Diambil oleh: Aliyah Rasyidah

Garut, Rabu 26 Januari 2022 Kabinet Askara Karsa, yaitu DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) STAI Persis Garut mengadakan kegiatan berupa Dialog Terbuka yang bertempat di Auditorium STAI Persis Garut, dengan mengangkat tema "Kampus Konservasi: Dibawah bayang-bayang Institusi dan Optimalisasi Pengelolaan Lembaga Kampus dan Mahasiswa". Dengan narasumber ketua DEMA sendiri, yaitu saudara Zidan Habiburrohman dan Ketua STAI Persis Garut Dr. Maman Sumpena, M.S.I. 

Saudara Zidan Habiburrohman menuturkan tujuan diadakanya kegiatan ini tidak lain untuk Membuat paradigma baru ditataran kampus, bahwa dialog-dialog seperti ini bukanlah persoalan yang  tabu, bukan persoalan yang tidak diperbolehkan. karena sudah jelas, kita juga punya hak untuk memberikan saran, masukan, menyampaikan aspirasi dan menyampaikan kritik dengan bentuk konstruktif demi kebaikan kampus kedepan. Agar adanya pemahaman yang rata kepada seluruh mahasiswa, dan mahasiswa tidak lagi bertanya-tanya tentang persoalan mengenai ini dan itu. 

Kegiatan dialog terbuka ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa saja. Dikarenakan suasana kampus sedang libur, dan kebanyakan mahasiswa  berada diluar Garut. Maka, mentri kominfo DEMA berinisiatif untuk melakukan live streaming dengan tidak mengurangi kehidmatan acara. 

Ketika acara berlangsung,  saudari Erna Erlina  mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis semester 5 selaku pemandu acara membagi waktu menjadi tiga termin. Termin pertama tanggapan dari kedua narasumber mengenai tema yang diusung dan dilanjutkan dengan pemaparan tujuan diadakannya dialog secara terbuka ini oleh Presiden Mahasiswa Zidan Habiburrohman. 

Sebelum masuk kepada termin kedua, pemandu acara memberikan waktu kepada kedua  narasumber untuk berdialog terkait tema yang diusung. Dimana Dr. Maman Sumpena, M.S.I. tidak setuju dengan kata bayang-bayang, karena menurut beliau kata tersebut seolah-olah tidak akan terwujud, namun realita lapangan kampus STAI Persis Garut telah mencapai kriteria institut dan hanya tinggal menunggu waktu saja untuk disah kan. Sedangkan menurut Zidan Habiburrohman sendiri, mengapa mengutip  kata "di bawah bayang-bayang Institusi" ini, karena berkaca pada informasi yang sampai kepada jajaran mahasiswa sendiri bahwasanya kampus STAI Persis Garut menuju kampus institut itu sudah sejak lama. Dari dialog ini, dapat ditarik benang merah bahwasanya untuk mencapai kampus institut itu memerlukan waktu dan proses yang cukup panjang. 

Masuk pada termin kedua dimana Presma menyampaikan aspirasinya terkait hak mahasiswa, dimana mahasiswa memiliki peran untuk membawa nama kampus kearah yang lebih baik. 

Dilanjut pada termin terakhir yaitu termin ketiga, dimana sang pamandu acara memberi waktu luang kepada para hadirin baik yang ada ditempat maupun yang ikut serta secara online untuk menyampaikan aspirasinya, baik berupa pertanyaan, saran, maupun kritik. Kemudian aspirasi-aspirasi tersebut disambut hangat oleh Dr. Maman, karena bagi beliau memang perlu adanya ajang keterbukaan antara mahasiswa dan staf kampus dengan harapan membuahkan hasil yang memuaskan bagi kedua belah pihak. 

Dipenghujung acara, kedua narasumber memberikan closing statement dimana Zidah Habiburrohman menuturkan, harus terus dan tetap kawal proses menuju kampus institut. Dan Dr. Maman Sumpena, M.S.I menuturkan, untuk selalu berproses kearah yang lebih baik dengan memegang visi dalam mewujudkan kampus sebagai lembaga saintek dakwah. 

Ciri pergerakan adalah suatu perubahan. Niat serta tujuan yang baik akan melahirkan pergerakan yang menghasilkan perubahan.


Zenab Siti Maryam
Jurnalis UKM Aksara

Posting Komentar

Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!

Lebih baru Lebih lama