Seminar Tafsir Hadis 2026 Soroti Strategi Pendidik Hadapi Krisis Karakter Kontemporer
Seminar Tafsir Hadis 2026 Soroti Strategi Pendidik Hadapi Krisis Karakter Kontemporer
Garut, Aksara— Himpunan Mahasiswa Program Studi (HM-PS) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir bersama HM-PS Ilmu Hadis Institut Agama Islam (IAI) Persis Garut menggelar Seminar Tafsir Hadis 2026 pada Kamis (1/1/2026) di Auditorium IAI Persis Garut. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta peserta dari berbagai latar belakang pendidikan keislaman.
Seminar yang dikemas dalam format talkshow ilmiah tersebut mengusung tema “Strategi Pendidik Al-Qur’an dan Hadis dalam Mencetak Generasi Rabbani di Tengah Tantangan Krisis Karakter Kontemporer.” Tema ini diangkat sebagai respons atas berbagai problem sosial dan moral yang dinilai semakin kompleks di tengah kemajuan teknologi dan perubahan budaya masyarakat.
Kegiatan diawali dengan keynote speech oleh Dekan Fakultas Ushuluddin IAI Persis Garut, Dr. Gun Gun Abdul Basit, S.Ag., M.Ag. Dalam pemaparannya, ia menyoroti realitas zaman yang ditandai oleh kemudahan akses informasi, namun diiringi dengan krisis hikmah, makna, dan karakter.
Menurutnya, krisis karakter yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari tantangan zaman yang bersifat sistemik. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai bagian dari “tipu daya zaman” yang mampu menggoyahkan fondasi moral generasi muda jika tidak dihadapi dengan pendidikan yang kuat dan berakar pada nilai Al-Qur’an dan hadis.
Dr. Gun Gun juga memaparkan sejumlah fenomena sosial yang menjadi indikator krisis karakter kontemporer di Indonesia, seperti meningkatnya perilaku perundungan dan kekerasan, degradasi moral di kalangan remaja, menguatnya individualisme dan hedonisme, hingga maraknya penyalahgunaan media sosial. Menurutnya, kondisi ini menuntut kehadiran pendidikan Qur’an dan hadis yang tidak sekadar normatif, tetapi responsif terhadap realitas sosial dan perkembangan media digital.
Ia menegaskan bahwa visi generasi rabbani harus menjadi orientasi utama pendidikan Islam. Generasi rabbani, menurutnya, adalah generasi yang menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidup, berilmu, beradab, serta mampu menjadi rahmat bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, pendidikan Qur’an dan hadis harus diarahkan pada pembentukan karakter, bukan hanya penguasaan teks.
Dalam konteks strategi, Dr. Gun Gun menekankan pentingnya sinergi antara tiga lingkungan utama pendidikan, yakni keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Ia menyebut keluarga sebagai madrasatul ula yang memiliki peran awal dalam penanaman nilai, sekolah atau kampus sebagai ruang transformasi karakter, serta masyarakat sebagai ekosistem yang menopang keberlanjutan nilai-nilai keimanan.
Setelah sesi keynote, seminar dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh dua narasumber utama. Dr. H. Agus Suyadi Raharusun, Lc., M.Ag. membahas strategi pendidik hadis dalam membentuk generasi rabbani. Ia menekankan bahwa guru hadis tidak cukup berperan sebagai penyampai riwayat, tetapi juga penjaga adab, penanam nilai, serta teladan dalam bersikap dan berpikir ilmiah.
Sementara itu, Dr. H. Roni Nugraha, M.Ag. memaparkan peran strategis pengajar Al-Qur’an dalam menumbuhkan generasi Qur’ani berkarakter rabbani. Ia menegaskan bahwa pendidikan Al-Qur’an harus melampaui aspek bacaan dan hafalan, menuju pemahaman, internalisasi nilai, serta pengamalan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua panitia menyampaikan bahwa Seminar Tafsir Hadis 2026 bertujuan memberikan wawasan konseptual dan praktis kepada peserta mengenai kriteria ideal pendidik Al-Qur’an dan hadis, tantangan pendidikan di era kontemporer, serta strategi metodologis yang relevan dengan perkembangan zaman.
Selain sesi pemaparan, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi interaktif dan tanya jawab. Para peserta tampak aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pandangan kritis terkait problem pendidikan Islam, krisis karakter generasi muda, serta tantangan moral di era digital.
Melalui seminar ini, panitia berharap terbangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan Qur’an dan hadis sebagai benteng utama dalam menghadapi krisis karakter. Seminar ini juga diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan konstruktif dalam upaya mencetak generasi rabbani yang berilmu, berakhlak, dan tangguh menghadapi dinamika zaman.
Komentar
Posting Komentar
Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!