SENI BERBOHONG ALA NOVELIS HARUKI MURAKAMI

 

Foto Haruki Murakami (Sumber: New York Times)

“Saya adalah pembohong profesional.”

Ungkapan itu diambil dari seorang novelis ternama yang berasal dari Jepang, Haruki Murakami. Menurutnya bukan hanya novelis yang suka berbohong. Para politisi, para diplomat, dan orang-orang militer, kelewat sering berbohong.


Setidaknya dalam sehari, sebulan atau satu tahun, setiap manusia pasti pernah berbohong. Entah itu kepada temannya, orang tuanya, kepada pacarnya, atau bahkan kepada dirinya sendiri.


Tapi apakah benar seorang Novelis adalah pembohong? atau karyanya hanya berisi kebohongan saja? Sebelum lanjut untuk menjawab pertanyaan itu mari kita refleksikan diri terlebih dahulu apa itu karya sastra.

Baca Juga: NOVEL: I WILL MISS RAMADHAN 

 

Sekilas Tentang Haruki Murakami

Murakami lahir pada 12 Januari 1949 di Kyoto, Jepang. Ia besar di Kobe lalu pindah ke Tokyo untuk kuliah di Universitas Waseda.  Lulus kuliah, Murakami dan istrinya mengelola sebuah kafe jazz kecil selama tujuh tahun. 


Pada tahun 1979, novel pertamanya Hear the Wind Sing, memenangkan hadiah Sastra Gunzou untuk penulis pendatang baru. Kesuksesannya berlanjut dengan diterbitkannya dua sekuel novel debutannya tersebut; Pinball, 1973 dan Wild Sheep Chase. Ketiga novel tersebut dikenal sebagai, “The Trilogi of the Rat.”


Ia juga menulis novel-novel berikut: Hard-Boiled Wonderland and the End of The World; South Of The Border; West Of The Sun; Norwegian Wood; Dance Dance Dance; The Wind-Up Bird Chronicle; Sputnik Sweetheart; Kafka On The Shore; After Dark; 1Q84; Colorless Tsukuru Tazaki and His of Pilgrimage; Killing Commendatore; dan The Strange Library.


Murakami juga menulis beberapa kumpulan cerpen sebagai berikut: The elephant Vanishes; After the Quake, Blind Willow Sleeping Woman; dan Men Without Women.


Selain menulis fiksi, Murakami juga menulis karya non-fiksi yaitu UndergroundThe Tokyo Gas Attack and the Japanese PsycheBuku ini merupakan hasil wawancaranya dengan para korban dan pelaku insiden serangan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo yang terjadi pada tahun 1995. Karya esainya yaitu What I Talk About When I Talk About Running


Murakami telah menerjemahkan beberapa karya sastrawan Amerika seperto Raymond Carver, Paul Theroux, Truman capote, Ursula K. Le Guin, dan J.D salinger ke dalam bahasa Jepang.

Baca Juga: RESENSI NOVEL BUMI CINTA

 

Karya Sastra Sebagai Ekspresi Seni dalam Bahasa


Karya sastra adalah sebuah karya seni yang diungkapkan melalui bahasa. Karya adalah ciptaan manusia yang dihasilkan melalui belajar. Sedangkan kata Seni adalah perasaan yang indah. Karya seni dipahami sebagai hasil olah budidaya manusia untuk mengungkapkan cita rasa indah. (Rohman, Saifur 2020).


Dengan begitu karya seni adalah sebuah ciptaan manusia yang memberikan keindahan bagi manusia lain. Sebagai contoh, matahari terbenam, bukan karya seni karena itu merupakan fenomena alam, perasaan yang timbul akibat menikmati fenomena matahari terbenam adalah perasaan seni. 


Kalau perasaan seni itu dituangkan melalui tulisan yang menggambarkan matahari terbenam, maka itu bisa disebut sebagai karya sastra. Dalam hal ini, kita pahami bahwa salah satu batasan sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak (Wellek dan Warren 2016).


Fiksi atau cerita rekaan adalah karya sastra dalam bentuk cerita imajinatif. Cerita adalah deretan peristiwa rekaan yang disatukan berdasarkan pertimbangan tertentu. 


Rekaan mengacu pada sebuah imajinatif sebagai sumber peristiwa. Bisa saja sebuah peristiwa itu mirip dengan fakta-fakta empiris, tetapi rekaan tetaplah harus diperlakukan sebagai sebuah imajinasi. (Rohman, Saifur 2020).


Dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah ekspresi seni yang diungkapkan melalui bahasa, menciptakan keindahan bagi manusia. Ini berbeda dari fenomena alam seperti matahari terbenam.


Karya sastra mencakup fiksi atau cerita imajinatif yang menggambarkan peristiwa rekaan dengan pertimbangan tertentu. Lantas karena alasan cerita imajinatif, fiksi dianggap sebagai sebuah kebohongan?

Baca Juga: NOVEL: "MEOW!" PART 1

 

Perbedaan antara Fiksi dan Kebohongan


Aristoteles kurang lebih mengatakan dalam diktumnya yang terkenal bahwa puisi lebih filosofis dari sejarah, karena sejarah berkaitan dengan hal-hal yang telah terjadi. Sedangkan puisi berkaitan dengan hal-hal yang bisa terjadi yaitu hal-hal yang umum dan yang mungkin. (Wellek dan Warren, 2016).


Sebenarnya kalau kita menyebut karya sastra penuh kebohongan, maka kita juga setuju bahwa tidak ada kebenaran literal di dalamnya. Sastra rekaan adalah “fiksi”, sebuah “tiruan kehidupan” yang artistik dan verbal.


Sebetulnya, lawan kata “fiksi” bukan “kebenaran” melainkan “fakta“ atau “keberadaan waktu dan ruang.” Dalam karya sastra hal-hal yang mungkin terjadi (probability) lebih diterima daripada fakta (Wellek dan Warren, 2016).


Dalam hal ini, kita pahami bahwa Fiksi sebagai sebuah “Tiruan kehidupan” merujuk pada sesuatu yang meniru atau menyerupai hal lain dengan tujuan tertentu, sementara kebohongan adalah pernyataan palsu yang disengaja dengan maksud menyesatkan. 


Jadi, perbedaan utamanya adalah bahwa tiruan melibatkan peniruan atau penyerupaan, sedangkan kebohongan melibatkan penyampaian informasi palsu.


Seperti halnya Novel “Hadji Murat”, karya Leo Tolstoy yang terakhir. Novel ini didasarkan pada kisah Hadji Murat, seorang pejuang muslim Chechnya yang karena alasan balas dendam pribadi bersekutu dengan tentara Rusia yang sebelumnya ia perangi. 


Tolstoy mengarang novel ini dari tahun 1896 sampai tahun 1904, dan diterbitkan tahun 1912. Jadi apa yang dimaksud “Saya adalah pembohong profesional,”?

Baca Juga: NOVEL: I WILL MISS RAMADHAN PART 2

 

Murakami Si Pembohong Profesional


Menurut Murakami, kebohongan seorang novelis adalah kebohongan dari jenisnya yang berbeda. Sebab itulah tak ada yang menghujat seorang novelis sebagai orang yang tak bermoral karena telah menyampaikan suatu kebohongan. 


Justru semakin bagus, hebat, dan cerdik, kebohongannya semakin ia dipuji orang-orang juga para kritikus. Kenapa bisa begitu?


Menurut Murakami dengan menyampaikan kebohongan secara lihai—artinya, dengan menulis fiksi yang meyakinkan, seorang novelis telah menggiring kebenaran ke wilayah baru dan menyorotinya dengan cahaya yang juga baru, menurutnya dalam banyak hal nyaris mustahil untuk merengkuh wujud sejati kebenaran. 


Kebenaran adalah sesuatu yang musykil digambarkan secara akurat, sebab itulah Murakami mencoba untuk menarik ekornya, memancingnya keluar dari liang persembunyian memindahkan dan mengubahnya ke dalam jagat fiksional.


Tapi, sebelum melakukan itu, terlebih dahulu Murakami menelisik kebenaran dalam dirinya sendiri. Ini adalah syarat utama untuk mencapai kebohongan yang bermutu. (Haruki Murakami, 2020).


Pemahaman Bahwa Fakta Lebih Kejam Daripada Fiksi


Kita tahu bahwa realitas sulit diterima, biasanya lebih kejam daripada fiksi, alasannya karena fakta didasarkan pada realitas yang sesungguhnya terjadi, sulit diubah dan dihindari.


Sementara dalam fiksi, penulis memiliki kebebasan untuk mengatur alur cerita dan karakter sesuai dengan imajinasi. Disinilah fungsi dari fiksi, fiksi sebagai "tiruan kehidupan" dimana hal-hal yang yang mungkin terjadi, lebih diterima daripada fakta.


Murakami membuat sebuah Analogi yang paling tepat untuk menggambar kondisi bahwa fakta lebih kejam daripada fiksi. Menurutnya kita kerap bertanya, apa jadinya kalau penghancuran gedung World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 tidak pernah terjadi?—atau seandainya aksi itu tidak berjalan sempurna? 


Keadaan dunia tentu amatlah berbeda, tidak seperti saat ini. Barangkali Amerika akan memiliki presiden yang berbeda, tidak akan ada peperangan di Irak dan Afghanistan ataupun tidak adanya stereotip islamofobia.

Analogi Tentang Realitas A (Fakta) dan Realitas B (Fiksi)


Kita sebut saja semesta yang kita diami saat ini sebagai realitas A (fakta), dan semesta di mana insiden 9/11 tidak pernah terjadi sebagai realitas B (Fiksi). 


Menurutnya realitas B (Fiksi) terasa lebih nyata dan lebih masuk akal dibandingkan semesta realitas A (Fakta). Dengan kata lain, menurutnya kita tengah hidup di semesta dengan level kenyataan dan kebenarannya lebih rendah dibandingkan dengan semesta yang tak nyata.


Kita ambil contoh, kasus pembunuhan berencana yang sedang viral di Indonesia, kasus Ferdy Sambo sebagai otak pembunuhan Yoshua, akibat dari pembunuhan itu Ferdy Sambo dijatuhi vonis hukuman mati dan diringankan oleh Majelis Agung (MA) menjadi seumur hidup.


Kita analogikan saja, vonis hukuman seumur hidup Sambo sebagai realitas A (Fakta), dan sebelum Vonis seumur hidupnya yaitu vonis hukuman mati sebagai realitas B (Fiksi). 


Dalam kasus Ferdy Sambo, perubahan vonis hukuman dari mati menjadi seumur hidup memperlihatkan bagaimana kita cenderung lebih menerima skenario fiksi (hukuman mati) daripada kenyataan atau fakta (hukuman seumur hidup). 


Ini menunjukkan bahwa terkadang persepsi kita terhadap fiksi lebih mudah diterima daripada kenyataan yang lebih kompleks dan beragam.


Di sini Murakami mengajukan pandangan bahwa fiksi bisa menjadi lebih diterima dan mengandung kebenaran daripada kenyataan, karena memberikan ketenangan imajinatif yang lebih sederhana dibandingkan dengan kompleksitas dunia nyata.


Seni Berbohong untuk Menggiring Kebenaran


Jadi, apa yang dimaksud dengan seni berbohong? dari pandangan Haruki Murakami, kita dapat mengambil pemahaman bahwa dalam karya sastra, khususnya dalam fiksi, terdapat sebuah keterampilan untuk berbohong dengan maksud menggiring kebenaran. 


Sastra rekaan seperti novel tidak selalu berisi kebohongan sejati, tetapi lebih pada penciptaan dunia imajinatif yang bisa menggambarkan aspek-aspek kebenaran yang sulit diungkapkan dalam realitas.


Karya sastra memberikan kebebasan kepada penulis untuk menggambarkan dunia dan peristiwa dengan sudut pandang dan narasi yang berbeda-beda.

 

Murakami menganggap bahwa mencapai kebenaran sejati dalam banyak hal sulit dan kompleks. Oleh karena itu, novelis berperan dalam menggiring kebenaran melalui kreativitas fiksi mereka. 


Proses ini dimulai dengan menjelajahi kebenaran dalam diri sendiri, yang menjadi dasar untuk menciptakan kebohongan berkualitas. 


Jadi apa yang disebut kebohongan oleh Murakami sebenarnya mengandung makna konotatif yang berarti sebuah upaya untuk menciptakan kreativitas fiksi. Itulah yang dimaksud “Seni berbohong ala Haruki Murakami.”

 

Penulis    : Sahrul Sayiril Anwar
Editor      : Zulfi Muhammad R


Referensi

Wellek, Rene dan Austin Warren, Teori Kesusastraan. Terjemahan Indonesia oleh PT Gramedia Pustaka      Utama, Jakarta, 2016.

Murakami, Haruki. Seni Menulis Fiksi, terjemahan Rozi Kembara. Yogyakarta: Circa, 2020.

Rohman, Saifur. Pembelajaran Cerpen, Jakarta: Bumi aksara, 2020.

Novelis di Masa Perang, sumber terjemahan: Ceramah Saat Menerima Jerusalem Prize, 2009. 

Realitas A dan Realitas B, sumber terjemahan: Ceramah Saat Mendapat International Catalunya Prize,     2011.


Posting Komentar

Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!

Lebih baru Lebih lama