NOVEL: I WILL MISS RAMADHAN

 


Sumber: Pinterest



BAB 1
Malam Dan Hujan


Sempatkan waktu untuk memenuhi panggilan azan, sebelum datangnya panggilan ajal.

-Fahdan-
 

Suara petir menggelegar, melengkapi hujan deras yang kini mengguyur sebagian belahan bumi. Sudah dua jam langit menangis melewati azan maghrib dan juga isya yang baru saja berkumandang. Sementara, di sebuah kafe dengan wajah yang instagramable, sekumpulan remaja sedang duduk santai sembari bermain kartu. Beberapa tawa diantara mereka pecah karena melihat yang kalah mendapatkan hukuman yang menggelikan.

“Sholat isya dulu hayu!” ajak lelaki berjaket denim, memandang temannya satu-persatu.

“Nanti lah. Ini lagi rame-ramenya, Bro,” jawab lelaki berkemeja cokelat kotak-kotak.

Dua laki-laki lainnya mengangguk setuju. Pemuda bernama Fahdan itu kemudian melirik dua perempuan yang duduk di seberangnya.

I … lagi dapet,” sahut perempuan berambut sebahu.

Perempuan berhijab pashmina hitam tersenyum kikuk menandakan dia juga belum mau melaksanakan salat seperti teman laki-lakinya.

“Yaudah, saya duluan, ya.  Awas nanti kalian gak sholat! Serem kan kalo diazab pas pulang.”

“Huu, anjir! Tega banget doain temen sendiri!”

“Gak doain. Cuma ngingetin doang,” balas Fahdan sembari menautkan jaket yang sudah dilepasnya di punggung kursi.

Aww! Soleh emang, ayang Fahdan!” celetuk Regil dengan ciri khas suaranya, membuat yang lain ingin muntah saat itu juga.

Fahdan hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum miring.

Kini, di meja dekat tembok itu tersisa lima orang. Mereka melanjutkan game yang belum lama berlangsung. Tiba-tiba notifikasi muncul dari salah satu ponsel yang ada di atas meja.

“Bentar, ini kayaknya ibu aku, deh,” ujar perempuan berhijab, Muti Azalea.

Lelaki berkaus putih menjawab, “Oke, Mut.”

‘Hm. Ibu nyuruh aku salat dan pulang kalo udah reda,’ batin Muti sambil memainkan sebelah tangannya. Dia pun perlahan berdiri, “Guys, aku solat dulu.”

“Lah-lah, si Fahdan kirim malaikat ke kamu, deh, keknya.”

“Emang, malaikat baru aja nyuruh aku solat. Azab bener-bener ada soalnya. Salah satunya … tuh,” jawab Muti seraya menunjuk pemuda berkaos pink dengan dagu.

Seketika mata mereka tertuju pada sosok Regil yang mendadak bengong. Keempat pasang mata itu menatapnya dari bagian perut sampai ujung kepala. Sementara Muti sudah pergi setelah berucap tadi.

Si kemeja lovers—Ehsan—sontak berdiri, lalu berkata, “Anjirr, jangan sampai gue kena virus dia dah!”

“Gass solat sekarang, Gess!” Kali ini yang berbicara adalah Hamzah.

Mereka terbirit-birit mengikuti jejak Muti. Sedangkan Regil, diam di tempat sambil mengerutkan kening.

“Mereka kerasukan malaikat kali, ya, Mon?”

“Ngaco! You yang kerasukan ladyboys Thailand.”

“Mit amit dah. Gue masih suka cewek, ya! K-kan, lu yang gue suka. Ups.”

“Sayangnya you bukan Song Joong Ki yang akan langsung gue terima,” kata Mona yang kemudian menjulurkan lidah.

 Regil komat-kamit. “Hih, si Sojong udah punya pacar sekarang. Lagian selera dia bukan kayak lu tau.”

“Dan selera gue juga bukan lu. Arasseo?”

“Araso … araso. Noh, makan tuh bakso. Gue gak mau lu kelaparan.”

Begitulah jika mereka ditinggalkan berdua. Selalu ada percekcokan yang selalu berakhir di bibir pemuda pinky itu. Mona malas melayani teman seperti dia, tetapi terkadang hatinya terhibur.

Dicintai Regil bukanlah impiannya. Bahkan, jika Regil berkorban apa pun untuknya. Karena baginya, lelaki impian saat ini adalah salah satu aktor Korea atau salah satu anggota boy band yang mendunia. Yap, Mona adalah k-popers sejak satu tahun lalu.

Baca juga: Sang Legenda Sajak, Sapardi Djoko Damono

Di musala kafe, Muti baru selesai melaksanakan kewajibannya. Dia belum melepas mukena. Sedangkan Ehsan dan Hamzah langsung keluar begitu selesai salat. Berbeda dengan Fahdan yang masih menundukkan kepala, menggerakkan jemari untuk menghitung bait dzikir yang terucap pelan di bibir.

Di sana tidak ada pembatas ruangan karena dibuatnya juga sederhana dengan ukuran ruangan yang tidak terlalu luas. Muti mengamati pemuda berpeci putih itu. Fahdan membawa peci yang ia lipat di sakunya. Dia benar-benar mengikuti kebiasaan almarhum ayahnya yang tidak pernah lupa membawa penutup kepala saat akan salat. Tentunya, untuk membentengi anak rambut Fahdan yang biasa menutupi kening, sebagaimana ulama menyepakati wajibnya menempelkan dahi ke tempat sujud.

Muti mengangkat tangan untuk berdoa. Tetapi, kedua matanya memaksa ingin melihat pemuda yang duduk bersila di depan sana.

‘Dia doa apa aja, sih? Masuk sini paling awal, tapi keluar paling akhir,’ ucap Muti dalam hati. ‘Dari awal nongkrong sama dia, selalu aja dia salat tepat waktu. Ga peduli lagi rame ngumpul.’

“Kalau doa itu nunduk, bukan liat ke depan.”

Mendengar kata-kata itu, Muti terperanjat kaget. Dia mengucek kedua indera penglihatannya. Di mana punggung yang tadi dia lihat? Ah, Muti baru sadar kalau saat ini Fahdan sedang berjalan hendak melewatinya. Jalan masuk dan keluar ruangan itu hanya satu, jadi siapa pun yang ada di belakang pasti terlewati oleh mereka yang selesai salat di depan.

“I-iya orang belum doanya juga.”

“Itu tangan udah diangkat. Mau berdoa, ‘kan? Bukan ngemis,” timpal Fahdan disertai senyuman manis. Lesung pipi Fahdan tampak jelas.

Pemuda tersebut melenggang pergi. Salah satu organ tubuh Muti berguncang hebat. Ah, mendadak ada perasaan aneh yang singgah. Muti beberapa kali menampar pipinya, berharap dirinya tersadar untuk tidak merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan.

“Yaa Allah, doaku masih sama seperti kemarin. Amin.”

Fahdan yang sengaja berdiri di belakang tiang, melongo mendengar kata-kata yang Muti sebut. Walaupun begitu, hal tersebut membuat Fahdan tersenyum sambil geleng-geleng. Fahdan sama sekali tidak mengatakan sesuatu yang menunjukkan dirinya lebih baik. Mengenai cara berdoa Muti, sebagai teman, dia akan mengingatkannya suatu saat nanti. Setelah itu, dia buru-buru pergi sebelum Muti menyadari ada dirinya di sana.

Baca juga: 
RESENSI NOVEL Kata (Tentang senja yang hilang langitnya)

Setibanya di tempat duduk semula, Muti celingak-celinguk karena tidak melihat keberadaan Fahdan.

“Hayoloo, pasti kamu nyariin si Fahdan, ya? Dia udah pulang, ada urusan mendadak. Betewe, Kalian habis ngapain, sih?” tanya Ehsan mengangkat turunkan alis.

Alis Muti bertautan. “Maksudnya?”

“Solat kalian udah kayak ritual nikah. Lamaa.”

Sorry-sorryEh, aku pulang duluan, yaa. Kasian ibuku di rumah sendirian.”

“Lah, I sendirian dong?” sahut Mona dengan cepat.

Muti berbisik di telinga temannya itu. “Kamu sebaiknya pulang juga. Kasian orang tua kamu pasti khawatir di rumah. Mereka sangat menunggu kedatangan putri cantiknya.”

Dari sana Mona tampak gelagapan. Dia langsung menyuruh Muti untuk pulang secepatnya. Dia juga memesan makanan untuk ibunya Muti. Entah sudah berapa kali, gadis itu sangat mudah mengeluarkan uang untuk mengirim makanan kepada siapa pun yang dia kehendaki.

If you need me, please contact me!

Itulah yang Muti utarakan kepada sahabatnya. Dia sebenarnya khawatir dengan Mona yang kelayapan bebas sesuai inginnya. Tidak terhitung berapa kali Muti mengajaknya, mengingatkannya. Namun, hatinya belum tergerak untuk pulang menemui keluarganya.

Please contact me if you need me too!

Sebelum berpisah, mereka berpelukan erat hingga kaum adam yang hadir di dekat mereka merasa terharu. Apalagi Regil yang ekpresinya tampak kontras, yaitu sambil merapatkan kedua telapak tangan, lalu menempelkannya di pipi. Tidak lupa, disertai dengan ekspresi wajah terharunya.

Muti pun pamit kepada semuanya.

Fix, sih, kita kudu bukber bulan puasa nanti. Satu hari lagi Gengs puasa,” kata Hamzah mengingatkan.

“Yash. Apalah daya gue yang baru jam lima sore aja udah laper,” balas Regil lemas.

“Hah? Gimana gimana? Semua orang juga udah laperr kalo jam segitu, Kampret!” semprot Ehsan dengan mulut halusnya.

Tawa mereka menggelegar, walaupun tidak seramai tawa jika sedang berenam. Kafe tersebut semakin ramai pengunjung. Karena dua teman sudah pamit, mereka juga menyusul setelah menghabiskan pesanan mereka. Saatnya jiwa-jiwa yang lelah beristirahat.

Setelah turun dari angkot, Muti mulai jalan kaki padahal masih hujan gerimis. Jarak dari jalan raya ke rumahnya tidak dekat, tidak juga sangat jauh. Bukan tanpa alasan dia jalan kaki. Uangnya hari ini sudah habis karena dipakai jajan. Kalau begitu, siapa yang salah? Sekarang dia hanya bisa mengeluh cape dan kedinginan.

Nahas, dia harus melewati tikungan jalan yang gelap tanpa pencahayaan karena ponselnya mati, habis baterai. Berharap ada kendaraan lewat yang akan menerangi jalannya. Di samping kiri dan kanan jalan gelap itu adalah kebun dan kuburan keluarga. Jika begini keadaannya, sebagai manusia normal, Muti merasa takut. Lagian, dia bukan tipe perempuan yang punya keberanian tinggi.

Langkah kakinya berhenti, kemudian melirik ke depan. ‘Duh, kalo tiba-tiba ada yang putih gimana? Gimana kalo tiba-tiba ada manusia atau jin yang narik?’

‘Aduh ya Allah, gimana ini? Please harus gimana?’ batin Muti tidak tenang.

Tiba-tiba, lingkaran cahaya muncul dari tikungan di depan sana menyoroti wajahnya. Setitik cahaya yang melayang. Jangan berpikir negatif! Itu adalah senter yang dipegang oleh seseorang. Muti sontak terkejut karena sosoknya tidak terlihat. Dia juga silau dengan cahaya yang menyebrot wajahnya. Langkah orang itu terdengar cepat dan semakin jelas di telinga Muti. Jantung Muti pun semakin berdegup kencang.

‘Si-siapa itu?’ kata Muti dalam hati sembari melangkah mundur perlahan.

***


Penulis :  
Wika Hermawanti
Editor   :  Nur Aida Hasanah

Posting Komentar

Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!

Lebih baru Lebih lama