Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Perempuan yang Masih Percaya pada Mimpi

Perempuan yang Masih Percaya pada Mimpi Karya: Marwah Salsabila Pagi itu adalah hari paling berat bagi Kansa. Hari di mana mimpinya kembali dipertanyakan, dan suaranya yang ingin menggenggam langit terasa kecil di tengah dunia yang sibuk menilai. “Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi?” kata sebagian orang, “pada akhirnya akan kembali ke dapur dan rumah.” Kansa tersenyum lirih. Ia tidak marah, hanya sedih karena banyak yang lupa, bahwa menjadi perempuan bukan berarti berhenti bermimpi. Ia ingin menuntut ilmu, bukan untuk melawan dunia, tetapi untuk menerangi langkahnya sendiri dan langkah orang tuanya yang dulu berjuang tanpa henti. Setelah kuliah, Kansa belajar satu hal: kuliah bukan hanya tentang nilai dan gelar, tapi tentang ketabahan. Tentang bertahan di hari-hari di mana semangat terasa hilang, dan doa menjadi satu-satunya tempat bersandar. Sering kali Kansa hampir menyerah. Namun di dalam hati, ada suara yang selalu berbisik pelan, “Harus kuat sampai akhir, demi orang tua.” M...

"Bukan Pilihan Terbaiknya" - Karya Musik Penuh Makna dari Ridwan Fauzi Arham

Profil Kreator Nama: Ridwan Fauzi Arham Jurusan: Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Lirik "Langit" menggambarkan perjalanan emosional yang dalam—dari kekaguman, keterlenaan, hingga penerimaan dan keikhlasan. Karya Ridwan ini tidak hanya sekadar rangkaian kata, tetapi cerminan proses penyadaran yang universal. Lirik Lagu Bukan Pilihan Terbaiknya Intro Langit… Terlihat begitu indah Memberikan cinta Kepada diriku Versi 1 Hadirmu… Membuat ku terlena Terbawa suasana Hingga lupa diri Versi 2 Sadarlah… Kau bukan pilihan terbaiknya Mundurlah perlahan Menangislah Sadarlah… Engkau bukan takdir terbaiknya Perlahan Kembali Ikhlaskanlah Reff 1 Hadirmu… Membuat ku terlena Terbawa suasana Hingga lupa diri Reff 2 Sadarlah… Kau bukan pilihan terbaiknya Mundurlah perlahan Menangislah Outro Sadarlah… Engkau bukan takdir terbaiknya Perlahan Kembali Ikhlaskanlah

Di Mana Letak Surga Itu

Di Mana Letak Surga Itu Oleh: Azhar Nurfauziyyah Untuk raga yang kini hilang dari pelukanku, Sudah tiga tahun lamanya kau tinggalkan dunia ini. Aku selalu berperang dengan pikiranku, Terus menyangkal akan hal mengerikan ini. Orang bilang, surga ada di bawah telapak kaki ibu— Lantas, harus kucari ke mana letak surga itu, Jika surga itu telah menghilang dari pandanganku, Yang bahkan tak bisa kutemui saat merindu. Bu, hadirmu begitu berharga dalam kehidupanku, Kehilanganmu bagaikan badai besar bagiku. Bisakah aku meminta satu hal padamu: Untuk tetap berada di sisiku? Aku mencoba untuk kembali pada kenyataan, Menyadari bahwa fakta pahit ini harus kuterima. Akankah surga itu kutemukan— Di tengah rindu yang menggebu, bagaikan badai petir di dada? Bu, semoga kelak kita bertemu di surga-Mu, ya Allah.

Ayat Tanpa Huruf di Langit

Ayat Tanpa Huruf di Langit Oleh : Amelia Hasna Irtafani | @vrtfani_ Setiap kali senja tiba, aku teringat bahwa langit adalah kanvas yang hanya bisa dilukis oleh-Nya. Warna jingga yang berlapis-lapis, awan yang bergerak pelan, semuanya tersusun tanpa pernah salah. Ada keindahan yang tidak bisa dijelaskan, Kecuali dengan syukur. Bahwa di balik setiap cahaya yang meredup, ada kuasa yang tak pernah redup. Bahwa di balik setiap pergantian hari, ada kasih yang tak pernah pergi. Aku duduk memandangnya, merasa kecilnya diriku di hadapan semesta yang begitu luas. Namun justru di situlah aku menemukan dekat, bahwa Tuhan tidak jauh, Ia hadir di warna langit, di hembusan angin, di detak hati yang masih diberi hidup. Senja selalu berakhir dengan gelap, namun hatiku percaya bahwa : cahaya itu tidak pernah padam, hanya disimpan, untuk kembali besok sebagai tanda cinta-Nya yang baru. Bionarasi : Amelia Hasna, penulis asal Garut. Baginya, menulis adalah cara merawat luka dan merayakan syukur. Ia percay...

Cukup untuk Mata yang Tepat

Cukup Untuk Mata yang Tepat Oleh: Agus Yasim Di malam yang sunyi, kutulis semua perasaan yang tersimpan Keramaian tak lagi mampu jadi obat Sebab diriku hanyalah sepi Suara yang tak selalu terdengar Sedang mereka yang bersuara keras Adalah mentari yang selalu dicari Aku tahu bagi mereka yang terbiasa dengan suara diamku sering kali tampak aneh Mereka bertanya, “Kenapa tak ceria menyambut pagi?” Karena lelah, kawan Diri ini terlalu sering dipaksa menjadi rindu Sebab aku adalah bulan Yang tak pernah mencoba meniru terangnya siang Aku tak bersinar untuk setiap pandangan Cukup untuk mata Yang berani menatap ketenangan

Dibalik Sebuah Luka

Dibalik Sebuah Luka Oleh: Afkary Saintia Mahira Dibalik sebuah luka yang kita rasa Ada seseorang yang tertawa bahagia Menatap kita yang menderita Karena luka yang ia cipta Seseorang yang tertawa bahagia Ialah orang yang dulu membuat tawa Berbagi rasa yang membuat bahagia Berangan untuk hidup bersama Dunia tak seindah yang kita kira Bahkan orang yang kita percaya Bisa memberi luka yang kita tak sangka Jangan pernah percaya pada dia Yang berjanji untuk hidup bersama Dalam suka maupun duka Karena ternyata yang membuat kita derita Adalah orang yang membuai tentang indahnya sebuah rasa