![]() |
| Sumber:Pinterest |
Setiap kali ada forum aspirasi mahasiswa, satu tuntutan hampir selalu muncul: perbaiki perpustakaan kampus.
Ruangannya kurang nyaman, koleksi bukunya kurang lengkap, fasilitasnya kalah jauh dibanding kafe, dan suasananya terlalu kaku. Pokoknya, perpustakaan harus dibikin lebih “manusiawi”.
Anehnya, tuntutan itu sering datang dari mahasiswa yang nyaris tak pernah benar-benar masuk ke dalamnya.
Bukan Cuma di satu kampus. Hampir di semua kampus, perpustakaan berdiri megah tapi sunyi. Rak buku tersusun rapi, meja baca tersedia, tapi kursinya lebih sering kosong. Kalaupun ada pengunjung, sebagian besar datang bukan untuk membaca, melainkan sekadar numpang duduk, atau mencari colokan.
Mahasiswa ingin perpustakaan yang bagus. Tapi “bagus” di sini sering berarti estetik, dingin, dan layak difoto. Bukan tempat yang betul-betul akrab dengan buku dan proses berpikir.
Perpustakaan, dalam imajinasi banyak mahasiswa, lebih mirip ruang tunggu ideal untuk niat belajar yang sering tertunda. Kita ingin tempat yang siap menampung keseriusan kita, kalau suatu hari nanti keseriusan itu benar-benar datang.
Masalahnya, budaya membaca di kampus memang tidak tumbuh dari ruang yang bagus saja. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dipelihara. Dan di sinilah letak ironi itu: kita menuntut ruang baca yang nyaman, tapi jarang melatih diri untuk betah membaca.
Sebagian mahasiswa datang ke perpustakaan karena terpaksa. Ada tugas. Ada dosen yang mewajibkan rujukan cetak. Ada skripsi yang menuntut sumber primer. Di luar itu, perpustakaan jarang dipilih sebagai ruang hidup intelektual. Ia lebih sering dianggap tempat darurat, bukan kebutuhan.
Padahal, perpustakaan bukan sekadar soal buku. Ia adalah ruang melambat di tengah kampus yang serba tergesa. Tempat di mana ide tidak harus viral dulu untuk dianggap penting. Tempat di mana proses berpikir tidak diukur dari seberapa cepat selesai, tapi seberapa dalam dipahami.
Sayangnya, kita hidup di budaya serba cepat. Membaca panjang terasa melelahkan. Mencari rujukan dianggap ribet. Ringkasan, kutipan instan, dan hasil pencarian cepat terasa jauh lebih efisien. Perpustakaan pun pelan-pelan tergeser, bukan karena tidak penting, tapi karena dianggap tidak praktis.
Ironi ini sebetulnya bukan soal salah siapa. Bukan semata kesalahan mahasiswa, juga bukan sepenuhnya salah pengelola. Perpustakaan dan penggunanya sama-sama terjebak dalam ekspektasi yang tidak saling bertemu. Mahasiswa ingin ruang yang hidup, perpustakaan menunggu pembaca yang datang.
Akhirnya, perpustakaan berdiri sebagai simbol intelektualitas kampus, tapi tidak sungguh-sungguh dihidupi. Kita bangga memilikinya, tapi jarang mengunjunginya. Kita menuntutnya berkembang, tapi lupa ikut merawat kebiasaan yang membuatnya bernyawa.
Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “kapan perpustakaan dibenahi?”
Tapi juga, “kapan kita terakhir masuk ke sana tanpa paksaan tugas?”
Karena perpustakaan yang baik bukan hanya yang fasilitasnya lengkap, melainkan yang benar-benar digunakan. Dan kampus yang hidup secara intelektual bukan diukur dari gedungnya, tapi dari seberapa sering mahasiswa bersedia duduk diam, membuka buku, dan berpikir tanpa terburu-buru.
Kalau tidak, perpustakaan akan terus jadi bangunan yang kita banggakan di brosur, tapi kita abaikan dalam keseharian.

Posting Komentar
Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!