Sore itu, UKM
Himpara dan UKM Trekata berkolaborasi dalam menciptakan ruang diskusi di IAI
Persis Garut, dipenuhi mahasiswa yang datang dengan beragam rasa penasaran.
Sebagian ingin mengetahui isi film dokumenter Pesta Babi, sebagian lainnya
ingin mengikuti ruang diskusi yang selama ini jarang hadir di lingkungan
kampus. Ini menjadi sebuah ruang untuk mendengar, memahami, dan merefleksikan
berbagai persoalan yang terjadi di Papua.
Ketua Senat
Mahasiswa (SEMA) IAI PERSIS Garut, Dede Andri Aliyudin, menjadi salah satu
pihak yang menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya,
keberanian panitia menghadirkan ruang diskusi seperti ini merupakan sesuatu
yang patut diapresiasi.
"Terkait
pandangan saya terhadap penyelenggaraan pesta babi ini, saya merasa sangat
senang karena panitia sudah mau membuang tenaganya untuk terselenggaranya pesta
babi, karna saya tahu betul mereka melek terhadap isu-isu sosial, nobar ini
juga sangat penting karena nobar ini bisa menjadi ajang penyadaran publik
karena banyak isu yang tidak dimuat di media tapi dijelaskan dalam pesta babi
ini." tuturnya
Baginya, film
dokumenter tersebut membuka sudut pandang baru yang sebelumnya belum banyak
diketahui.
"Insight
yang dapat mengubah perspektif saya setelah menonton pesta babi ini, yang
pertama terkait makna hutan bagi masyarakat papua, makna hutan bagi mereka
bukan hanya lahan kosong melainkan dalam film itu dijelaskan sebagai super
market yang mana mereka sangat membutuhkan. Yang kedua mengenai biodiesel dan
bioetanhol yaitu kedua bahan bakar yang dipasarkan sebagai solusi yang ramah
lingkungan. Namun ternyata dibalik itu proyek tersebut membutuhkan jutaan
hektar lahan, dan hutan papua yang menjadi sasarannya." tegasnya.
Dari sana,
pembahasan kemudian bergeser pada relevansi persoalan tersebut dengan kehidupan
masyarakat yang lebih luas. Menurut Dede, ada persoalan yang menjadi perhatian
setelah menyaksikan film tersebut.
"Terkait
dengan isu yang relevan di lingkungan kita, ada pada aparat baik TNI ataupun
kepolisian yang melakukan intimidasi terhadap warga-warga papua yang menolak
untuk melepaskan tanah-tanah mereka itu menurut saya menjadi cerminan bahwa di
negara kita ini sangat susah untuk bebas itu susah, selalu saja ada intimidasi
dari aparat."
Meski berbagai
dinamika terjadi sebelum kegiatan berlangsung, ia mengaku mengikuti proses
tersebut sejak awal.
"Terkait
dengan dinamika yang terjadi sebelum diselenggarakannya nobar kemarin, sebagai
ketua SEMA saya tahu betul dinamika yang terjadi, karna adanya komunikasi
aktif. Adapun keterlibatan saya ada pada perihal perizinan, sedangkan teknis
dan sebagainya dilakukan oleh para panitia."
Di akhir
penyampaiannya, ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu momentum
saja.
"Harapan
saya setelah diselenggarakannya nobar ini, harapannya tentu semoga mahasiswa
khususnya mahasiswa IAI PERSIS Garut umumnya mahasiswa seluruh Indonesia punya
kesadaran lebih terhadap isu-isu sosial sehingga mereka sebagai mahasiswa bisa
menjadi penghubung lidah, penengan, penyampai dari suara-suara masyarakat
kepada pemerintah."
Pandangan serupa
juga disampaikan Ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) IAI PERSIS Garut. Baginya, kampus
memiliki tanggung jawab untuk menjaga ruang berpikir kritis dan kebebasan
berdiskusi.
"Karena
kampus merupakan ruang diskusi, DEMA harus memastikan kampus tetap menjadi
tempat mahasiswa bebas berpikir dan berdiskusi. apabila pemutaran film pesta
babi saja kita tidak kawal, besok-besok diskusi lain bisa ikut dilarang."
ujarnya
Menurutnya,
kampus semestinya hadir sebagai tempat bertemunya berbagai gagasan, bukan
justru menjadi ruang yang membatasi diskusi.
"Kampus
sudah semestinya menjadi rumah untuk berdiskusi, bukan melarang. Film ini
memang pernah dibubarkan di tempat lain, maka dari itu kampus kita harus
menunjukkan bedanya. Selama tidak ada provokasi kekerasan, kampus wajib menjaga
acara ini tetap berjalan."
Lebih jauh, ia
mengakui bahwa sebelum menyaksikan film tersebut, isu masyarakat Papua belum
menjadi perhatian bagi organisasi yang dipimpinnya.
"Belum
menjadi agenda DEMA sebelumnya, tapi setelah nonton filmnya, isu masyarakat
Papua harus menjadi perhatian bagi kami ke depan. ini menjadi pelajaran bagi
DEMA agar isu yang kita kaji lebih luas."
Perasaan yang
muncul setelah menyaksikan film itu pun ia ungkapkan secara singkat.
"Berduka.
Berduka untuk hutan, sungai, hewan dan masyarakat adat yang kehilangan
tanahnya. Rasanya sangat berat melihat dampak pembangunan sebesar itu."
Meski demikian,
ia menegaskan bahwa posisi organisasi yang dipimpinnya bukanlah menolak
pembangunan.
"Kita tidak anti pembangunan. Kita
dukung PSN, tapi harus adil. Tidak boleh ada warga yang dikorbankan. Langkah realistis
yang kami ambil:
-DEMA sudah bergabung di Aliansi Bemnus.
Lewat aliansi ini kami bisa dorong sikap bersama antar kampus. Jadi suara kita
nggak teriak sendiri, tapi kolektif buat dorong pemerintah evaluasi PSN yang
merugikan.
-Dari hasil diskusi dan koordinasi itu
kami akan keluarkan rilis sikap resmi."
Ia kemudian
menegaskan kembali posisi tersebut.
"PSN boleh
jalan, tapi hak masyarakat adat dan lingkungan wajib dilindungi."
Menurutnya,
mahasiswa di luar Papua perlu memahami persoalan tersebut secara utuh sebelum
membangun kesimpulan.
"Intinya
pahami/dengarkan terlebih dahulu kondisinya, jangan merasa paling paham dengan
kondisi di Papua. Tugas mahasiswa di Jawa adalah menjembatani suara kawan-kawan
yang berada di Papua, sehingga bisa disampaikan langsung ke pemerintahan
pusat."
Perspektif lain
datang dari Samsul Ma'arif selaku mahasiswa. Baginya, keberanian mahasiswa
menyelenggarakan kegiatan seperti ini menjadi sesuatu yang membanggakan,
terlebih setelah sekian lama ruang diskusi semacam itu jarang terlihat di
kampus.
"Sebuah rasa
bangga terhadap rekan rekan di kampus yang mulai berani mengadakan acara acara
yang sejauh ini, selama saya delapan semester hal hal seperti ini sering
dianggap tabu. Apalagi kan dengan film dokumenter yang mana saya kenal dari
filmnya sexy killers 2019 dan ada beberapa film lagi. Dan ini dibuat mungkin
supaya lebih banyak kegiatan diskusi mungkin ya, karena ini harus diadakan
secara nobar berbeda seperti sexy killers yang di up langsung di publik dan
tidak diposting di YouTube, harus ada nobar. Penyelenggara dari Himpara dan
Trekata mengadakan sesuatu yang baru, sesuatu yang fresh dan saya ikut
antusias."
Antusiasmenya
tidak hanya muncul karena isi film, tetapi juga karena melihat lahirnya bentuk
kegiatan baru di lingkungan mahasiswa.
"Ada hal
yang menarik lagi selain isi konten nobar pesta babinya, saya juga tadi ikut
antusias."
Menurutnya,
selama ini banyak kegiatan literasi telah dilakukan berbagai organisasi
mahasiswa, namun tantangannya selalu berada pada partisipasi peserta.
"Sebelumnya
kan juga ada kegiatan kegiatan literasi dari organisasi ekstra, dari komunitas
kolektif mahasiswa seperti Larasati ada juga dari aksara. Tapi kan kita juga
mengetahui bagaimana kegiatan rica rica di aksara, bagaimana kegiatan sharing
atau temu buku di Larasati, bagaimana kajian kajian yang diadakan hima persis,
bagaimana kaba book yang diadakan oleh HMI komisariat IAI PERSIS Garut, itu
susah mengumpulkan orang atau mengajak. Mungkin tujuan awalnya mengajak akan
tetapi esensi kita ingin berbagi pengetahuan, ingin melakukan eksponensial,
Groot atau pertumbuhan secara bersama gitu agar mendapatkan sesuatu atau
mencapai tujuan lebih cepat. Jadi nobar ini bisa menjadi terobosan baru.
Kegiatan kegiatan mahasiswa itu low budget dan banyak diminati terutama dalam
memajukan data literasi nya, seperti itu. mungkin nanti setelah nonton film ,
mungkin ada film film yang diadopsi oleh buku dan mengajak untuk membaca buku
tersebut."
Pembahasan
kemudian mengarah pada proyek strategis nasional yang menjadi salah satu pokok
bahasan dalam film.
"Proyek
strategis nasional seperti yang ada di film pesta babi memang sudah dilakukan
pada zaman.. kalau yang PSN ini kan sudah dilakukan oleh 3 presiden untuk
Papua, sebelum sebelumnya pun memang ada, bukan Hanya di papua, seperti di
Kalimantan kalau zaman Soeharto ada transmigrasi dari orang daerah Jawa
dipindahkan ke daerah pelosok. Hal hal seperti itu memang ada dan bukan hanya
PSN saja akan tetapi proyek nepotisme pemerintahan yang sering saya dengar, entah
gunung di Kudus yang semen, terus kemudian di Garut yang geotermal, banyak
proyek non strategis nasional yang melanggar konstitusi dan melanggar hak hak
masyarakat disekitarnya."
Ia juga
mengaitkan refleksi tersebut dengan gagasan yang pernah dibacanya mengenai
pendidikan dan pembebasan.
"Kalau tidak
salah menurut Paulo Friere seorang penulis dari Brazil menulis tentang
pendidikan kaum tertindas. Ada sebuah gagasan, saya lupa lagi apakah liberation
forces ini ada dalam pendidikan kaum tertindas atau tidak, soalnya agak
ketumpuk dengan diskusi lain bersama kawan kawan. Yang jelas liberation forces
atau kekuatan pembebas baik dari mahasiswa atau orang orang akademik orang
orang yang memiliki pendidikan itu membebaskan dirinya dan masyarakat dari
penindasan intelektual, penindasan sosial dan penindasan ekonomi. Walaupun isu
di Papua sudah lama diketahui melalui film ini dapat me-refresh kembali untuk
menambah semangat untuk memperjuangkan hak hak seperti itu."
Di akhir
wawancara, ia menutup pandangannya dengan refleksi mengenai posisi Papua di
tengah berbagai proyek pembangunan.
"Mungkin
dulu pernah ada seperti Papua ingin membebaskan diri karena ditunggangi asing,
namun setelah ini justru sepertinya Papua sendiri yang asing di mata negara,
bukannya ditunggangi asing. Karena kehadiran pemerintah hanya berbasis proyek
mungkin. Dan seperti hal hal seperti PSN dalam film pesta babi tersebut ataupun
data data sebelum kepemimpinan Prabowo sendiri beberapa programnya masih sama
hanya memanfaatkan tanpa memberikan akses akses kehidupan yang layak."
Nobar Pesta Babi
pada akhirnya melahirkan berbagai pandangan, refleksi, dan percakapan mengenai
kebebasan akademik, literasi, pembangunan, lingkungan, hingga peran mahasiswa
dalam membaca realitas sosial. Kampus pun sekali lagi menunjukkan fungsinya
sebagai ruang bertemunya gagasan, tempat berdiskusi, dan ruang untuk terus
belajar memahami persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Jurnalis : Riza
dan Safira
Penulis : Karima
Azzahra
Editor : Pimpinan
Redaksi
Posting Komentar
Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!