Gerakan, tanpa Tuhan?

Oleh: DeWa

Jam sedang merintih menjerit.
Melihat waktu terus berdenting menghimpit.


Jiwa remuk redam, sebelum sadar menghamiri atas apa yang aku genggam.

Riuh angin meniup dinding sabar.
Agar tak menggulung menjadi badai kasar.

Draf agenda perjuangan masih semrawut.
Kalimantang belum bergelabar karena masih kusut.

Dengan tenang sambil menghela napas.
Dia serukan untuk berderap melangkah bersama, tunggangi ciri khas.

Tatkala hulubalang menyeru pasukan untuk mendalami sebuah ilmu..

Ada teriakan provokator .
menebas semangat, Memberi moncong sebuah indikator .

"Aku ingin dirinya seperti Abu Bakar!! "
"Sajikan kami sesajen"
"Dimana hidangan yang berlimpah ruah? "

Tak jauh dari sektor pengasuh ikut mengeluh!
"Aku ingin dirinya seperti Umar! "
" Beri kami kain dari Yaman"

Teriakkan ambisi mulai menyeruak !
Dengan lantang suara dari dalam semak semak.

Seketika dia riuh kusut dalam kesepian, menanggapi sebuah keluhan.

Dia Memanggil Tuan puan untuk merapat guna memecahkan soal keluhan pergerakan. sayang, yang datang hanya satuan.

Dia Bangunkan Bung Karno dari tidurnya, menyoalkan sepuluh pemuda pengguncang dunia. Ternyata hanya mengguncangkan Dunia maya.

Dasar kolonialisasi media!!

Tuhaaan, ternyata dia manja berfikir.
Orang kiri yang mendadak hadir.

Selamat panglima, alih alih mereka sudah menghilangkan Tuhan dalam setiap seduhan Gerakan.

Kota intan 24 02 19 02:24.

Posting Komentar

Halo sobat Aksara!
Jika mari berkomentar dengan memberikan gagasan atau pendapat yang terbaik, kita jauhi komentar yang mengandung hal yang tidak diinginkan yaa!

Lebih baru Lebih lama